Perencanaan transportasi perkotaan yang efektif tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan data lalu lintas yang akurat. Salah satu data paling fundamental dalam kajian transportasi adalah jasa service TC (Traffic Count), yaitu penghitungan volume kendaraan pada suatu ruas jalan atau simpang dalam periode waktu tertentu. Data ini menjadi fondasi utama dalam analisis kinerja jalan, perencanaan infrastruktur, hingga pengambilan kebijakan transportasi perkotaan.
Dalam konteks perkotaan, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi mendorong peningkatan pergerakan kendaraan yang signifikan. Tanpa dukungan data Traffic Count yang valid, perencanaan transportasi berisiko menghasilkan solusi yang tidak tepat sasaran. Melalui survei Traffic Count, konsultan transportasi dapat mengetahui volume lalu lintas harian, jam puncak, komposisi jenis kendaraan, serta distribusi arah pergerakan. Informasi ini sangat penting untuk memahami pola mobilitas masyarakat kota.
Pemanfaatan data Traffic Count memungkinkan analisis kinerja ruas jalan, seperti kapasitas, derajat kejenuhan, dan tingkat pelayanan jalan. Dengan pendekatan berbasis Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI), data volume lalu lintas dapat diolah untuk menilai apakah suatu ruas masih mampu menampung arus kendaraan atau sudah memerlukan penanganan khusus. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam perencanaan pelebaran jalan, pengaturan lalu lintas, atau penerapan rekayasa lalu lintas tertentu.
Selain itu, data Traffic Count juga berperan penting dalam perencanaan simpang dan manajemen persimpangan. Data volume dan pola pergerakan kendaraan digunakan untuk menentukan pengaturan fase lampu lalu lintas, desain geometrik simpang, serta kebutuhan fasilitas pendukung keselamatan. Tanpa data yang akurat, pengaturan simpang berpotensi menimbulkan kemacetan baru atau meningkatkan risiko kecelakaan.
Dalam skala yang lebih luas, data Traffic Count menjadi komponen utama dalam penyusunan studi Andalalin dan dokumen perencanaan transportasi perkotaan. Data ini digunakan untuk memproyeksikan pertumbuhan lalu lintas akibat pembangunan kawasan baru, pusat kegiatan, maupun perubahan fungsi lahan. Proyeksi yang berbasis data memungkinkan perencana transportasi menyusun rekomendasi yang realistis dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, pelaksanaan survei Traffic Count tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Diperlukan metode yang tepat, sumber daya manusia yang kompeten, serta pengolahan data yang sesuai kaidah teknis transportasi. Konsultan transportasi berpengalaman berperan penting dalam memastikan bahwa data Traffic Count yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan kondisi lalu lintas aktual.
Dengan pemanfaatan data jasa sevice TC (Traffic Count)yang optimal, perencanaan transportasi perkotaan dapat diarahkan untuk menciptakan sistem lalu lintas yang lebih tertib, aman, dan efisien, sekaligus mendukung pertumbuhan kota secara berkelanjutan.